Minggu, 29 Januari 2012

Arti kata Memayu Hayuning Bawana




Salah satu falsafah terpenting SH Terate adalah Memayu Hayuning Bawono. Namun masih banyak di antara kita (warga SH Terate) yang belum mengetahui makna dari kata-kata itu. Suatu hari pernah saya ditanya oleh siswa SH Teratem "Mas, sebenarnya apa sih makna kata Memayu Hayuning Bawono?". Saya jawab, "Artinya tidak jauh berbeda dengan rahmatan lil 'alamin".

Terlepas mirip atau tidak, namun kata-kata itu berasal dari bahasa Jawa, yang mana tidak semua warga SH Terate adalah orang Jawa. Bahkan yang orang Jawa sekalipun belum tentu paham.



Mengacu pada inti sari buku Memayu Hayuning Bawono yang di tulis oleh DR. Budya Pradipta yang pernah juga disampaikan di Global Summit (Pertemuan Puncak Dunia) sebagai agenda for Action bagi United Religions Inisiative, kata Memayu berasal dari kata hayu(cantik, indah atau selamat) dengan mendapat awalan ma menjadimamayu (mempercantik, memperindah atau meningkatkan keselamatan) yang diucapkan sering-sering sebagai memayu.
Kata Hayuning berasal dari kata hayu dengan mendapatkan kata ganti kepunyaan ning (nya) yg berarti cantiknya indahnya atau selamatnya (keselamatannya) terjemahan bebasnya dari memayu hayuning: mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Kata Bawono berarti dunia dalam pengertian dunia batin, jiwa atau rohani. Sedangkan untuk pengertian lahiriah ragawi, atau jasmaniahnya dipergunakan kata buwono yang berati dunia dalam arti fisik. Bawono terdiri dari tiga macam arti dan makna yaitu:
- Bawono Alit (kecil) yg bermakna pribadi dan keluarga
- Bawono Agung (besar) yg berati masyarakat, bangsa, negara dan international (global)
- Bawono Langgeng (abadi) adalah alam akhirat


Secara keseluruhan terjemahan bebas dari Memayu Hayuning Bawono adalah mengusahakan (mengupayakan) Keselamatan, Kebahagiaan, dan Kesejahterann Hidup di Dunia. Sepi ing pamrih, Memayu Hayunig Bawono (credo) Sepi ing pamrih rame ing gawe, Sastro Cetho Harjendro Hayuning.
Sementara ada juga pihak yang menterjemahkan pengertian Memayu Hayuning Bawana ini menegaskan bahwa segenap tubuh manusia (kita) di dalam jiwa dan tubuh jasmaninya saling berhubungan dan berkaitan secara seimbang dengan energi alam semesta yang membawa energi hawa dengan nafsu yang ada di jiwa kita, yang keduanya tidak bisa dipisahkan.

Sejarah Perguruan PSHT


Untuk mengetahui apa yang mungkin terjadi nanti alangkah bijaksananya apabila kita mau mempelajari dan mengerti apa yang sekarang sedang berrlangsung. Sedangkan untuk mengerti apa yang sekarang sedang berlangsung, ada baiknya apabila kita mau mempelajari kejadian – kejadian yang baru saja berlangsung, akan tetapi juga kejadian yang sudah silam. Demikian juga bila kita ingin menulis sejarah Persaudaraan Setia Hati Ternate yang mencakup satu masa yang lamanya lebih dari pada setengah abad, dapatlah dipertanggung jawabkan sepenuhnya apabila kita menengok jauh lebih ke belakang lagi dari pada masa yang ingin kita teropong itu yaitu zaman dari “Ki Ngabehi Surodiwirjo” yang merupakan guru dari “KI HADJAR HARDJO OETOMO” Pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate.

Sejarah Persaudaraan Setia Hati
Pada tahun 1903, bertempat di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya, Ki Ngabeni Surodiwirjo membentuk persaudaraan yang anggota keluarganya disebut “Sedulur Tunggal Ketjer”, sedangkan permainan pencak silatnya disebut “Djojo Gendilo”
Tahun 1912, Ki Ngabeni Surodiwirjo berhenti bekerja karrena merasa kecewa disebabkan seringkali atasannya tidak menepati janji. Selain itu suasana mulai tidak menyenangkan karena pemeintah Hindia Belanda menaruh curiga; mengingat beliau pernah melempar seorang pelaut Belanda ke sungai dan beliau telah membentuk perkumpulan pencak silat sebagai alat pembela diri, ditambah pula beliau adalah seorang pemberani, Pemerintah Hindia Belanda mulai kwatir, beliau akan mampu membentuk kekuatan bangsa Indonesia dan menentang mereka. Setelah keluar dari pekerjaannya, beliau pergi ke Tegal.
Tahun 1914, Ki Ngabehi Surodiwirjo kembali ke Surabaya dan bekerja di Djawatan Kereta Api Kalimas,

Sabtu, 28 Januari 2012

CERITA MBAH ADEG WIDURI

Desa Baleraksa yaiku salah sijine desa sing ana ing wilayah Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. Jaman biyen ana cerita saka wong tuwa, sing teka lan urip neng desa kuwi. Jenenge Syeh Maulana Pandansari, sing asale saka negara lor. Syeh Maulana Pandansari nggawe gubug neng tengah alas dhewekan. Gubug kuwi gendheng lan pagere saka suket. Sawise Syeh Maulana Pandansari urip dhewekan neng alas, dumadakan kepethuk karo wong wadon ayu sing jare asale padha karo dheweke. Wong loro padha senenge. Awit wong wadon ayu kuwi teka neng alas, dadi ana wong loro sing manggon neng alas. Nanging isih urip ing gubuge dhewe-dhewe. 


Bareng wis suwe wong loro mau akhire padha sepakat urip bebarengan neng alas. Puluhan taun wong loro kuwi urip neng alas karo anak-anake. Nembe sawise anak-anake padha duwe bojo, ana wong anyar teka, mula alase kuwi dadi tambah rame. Akhire dadi desa sing dijenengi desa Karanggedhe. Syeh Maulana Pandansari kuwi wong sing sekti,


AYO GABUNG... GINI CARANYA..

Ayo kawan-kawan kita saling komentar saling berbagi lewat blog pribadi masing-masing...


dewek aja nganti ketinggalan mbok lah..

ya ngerti dewek.. bae lah..

wis mayuh cekidot bae..

nggo sing arep gawe blog kaya gie... KLIK NANGENE

wis gue daftar langsung, aja buang2 waktu..oke cooy??

okelaah selamat ber bloging..

Selasa, 16 Agustus 2011